March Wish
Untuk yang sedang berulang tahun hari ini, selamat menua.
Bagaimana tidurmu, semalam? Nyenyak? Sudah ada yang memberi ucapan? Hehe cie tambah tua. Ingat terakhir kali kita bercakap? tak ada jawaban. Kamu ingkar janji. Tuan, aku pernah merasa sia-sia mulai dari berjuang hingga bertahan; walaupun sudah sama sekali tidak ditahan. Aku yang dulu yakin bahwa kamu punya kuasa penuh perkara isi hati. Tapi apa? Sekali lagi aku dibuat ragu. Lalu hingga pada tahap aku sudah lelah berdiskusi rasa, semua aku perjelas, kamu pergi. Runtuh. Semua nampak asing. Aku kecewa, tapi aku tak pernah bisa marah. Bohong kalau kamu dengar kabar aku telah usai. Nyatanya kabarmu yang masih aku kejar sampai detik ini. Tuan, tahu tidak? Orang-orang riuh sekali, berisik, bertanya 'dimana harga dirimu?', padahal aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Aku geram, bukankah bahagiaku aku yang pegang kendali? Ujarku dalam hati 'kalau tidak bisa paham aku lebih baik diam saja, aku tak perlu ocehan mu'. Mereka hanya bisa menghakimi perasaanku bukan? tapi tidak memberi tahuku cara untuk tetap baik-baik saja. Ckk konyol sekali hidup ini. Aku ingin marah, lalu berhenti berurusan dengan mereka. Tapi nyatanya mereka yang selalu menenangkanku saat ragamu acuh padaku, mereka yang paling mengerti aku ketika kamu bahkan tak peduli aku, intinya mereka lebih menghargai hadirku daripada kamu. Tuan, aku beritahu ya.. Aku ingin sekali jadi pemeran utama dalam ceritaku sendiri . Berusaha masuk dalam skenario asmaramu nyatanya sesulit aku meminta semesta untuk kamu tetap disini. Nihil, hanya sakit dan penolakan yang aku terima. Ternyata berpura-pura untuk haha hihi saja tidak cukup ya. Intinya aku keras kepala, kamu tau itu bukan?
Oiya, Tuan. Aku memang masih belum sempurna untuk belajar ikhlas. Setidaknya aku sudah mulai berdamai dengan hati sendiri. Maaf ya sudah mau aku repotkan perihal rasa. Nanti, kalau mendengar namamu aku sudah baik-baik saja, secepatnya, akan aku beritahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar